Senin, 20 Agustus 2018

Latihan



Aku Janji Tak Akan Nakal Lagi

Sepasang suami istri yang sangat sibuk dengan segala pekerjaan serta rutinitasnya, seperti pasangan lain di kota-kota besar, selalu meninggalkan anak-anaknya diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet.
Anak tunggal pasangan ini,Dela,perempuan cantik berusia empat setengah tahun. Sendirian ia dirumah kerap kali bermain sendiri, dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja di dapur. Ia sering bermain dengan sosok-sosok boneka imajinernya. Bermain bersama boneka-boneka atau ayunan-ayunan diatas buaian yang dibelikan ayahnya ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya yang lumayan cukup besar dan memiliki taman yang luas.

Suatu hari Dela melihat sebatang paku karat.Dan ia pun mencoret lantai garasi tempat mobil ayahnya diparkir. Tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dia lalu penasaran dan mencobanya lagi pada mobil baru ayahnya.
Karena mobil mewah itu berwarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Ia makin senang dan membuat banyak coretan sesuai dengan semua kreativitasnya.

Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya,gambarnya sendiri,lukisan ayam,kucing,dan lain sebagainya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum masuk ke rumah ini pun terus menjerit,”Kerjaan siapa ini !!!”
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia kaget dan istigfar melihat banyaknya guratan dimobil majikannya. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya. Lalu dia terus mengatakan,”Saya tidak tahu.. tuan.”
Dengan tak kalah bengisnya , si istri membentak pembantu tua yang tidak tahu apa-apa.
Dela yang mendengar suara ayahnya,tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata sambil menunjukkan coretan-coretan di mobil.
“Dela yang membuat gambar itu ayah, bagus kan? Gambar ibu cantik kan? Juga gambar kucing dan ikan, lucuuu kan yah?”Gadis itu berkata dengan polos dan jujur sambil memeluk ayahnya, bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil penuh duri dari pohon di depan rumahnya. Lalu dipukulkannya berkali-kali kedua telapak tangan anaknya. Dela yang tak mengerti apa-apa kaget dan menangis kesakitan,pedih sekaligus ketakutan.
Puas memukul telapak tangan,si ayah memukul pula belakang tangan anaknya tanpa ampun. Sedangkan si ibu Cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan dan kemudian diganti tangan kiri anaknya.

Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong Dela yang tangannya lecet dan berdarah, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan Dela luka-luka dan terus mengeluarkan darah. Pembantu rumah memandikan dela. Sambil menyiraminya dengan air,dia menangis. Dela menjerit-jerit menahan pedih luka-lukanya itu saat terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantunya.

Keesokan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. pembantu rumah mengadu pada majikannya.
Si bapak yang masih menyimpan amarahnya,lantang menjawab,”Oleskan obat apa saja! Terserah!”
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak semata wayangnya yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.
“Dela demam, Bu,?” jawab pembantunya ringkas
“Kasih saja sirup penurun panas itu saja,” jawab si ibu begitu ringan.
Sebelum si ibu masuk kamar tidur ia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya dalam pelukan pembantu rumah, ia menutup kembali pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dela terlalu panas.
“Sore nanti kita bawa ke klinik... pukul 5 sore sudah harus siap,” kata majikannya ringan tanpa beban.
Sampai saatnya Dela yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah sangat serius.
Setelah beberapa hari dirawat inap dokter manggil bapak dan ibu itu.
“Tidak ada kemajuan dan tidak ada pilihan”..
“Maksud dokter?”
Dokter menghelakan nafas dalam-dalam, menatap kedua orang tua Dela.
“Lukanya, sudah infeksi cukup serius dan akut. Ini sudah bernanah. Demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus di potong dari siku ke bawah.
Si bapak dan si ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia terhenti berputar, tapi apa yang dapat kita katakan lagi. Semua telah terlanjur terjadi. Dokter tau tindakan apa yang segera diambil demi menyelamatkan Dela.
Si ibu meraung-raung, menangis sekencang-kencangnya, merangkul dela yang hanya diam, tidak begitu mengerti percakapan mereka.
Beberapa saat kemudian, dengan sangat berat hati dan lelehan air mata istrinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkannya habis, Dela ,menangis kesakitan. Dia tampak keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih.
Ditatapnya muka perawat, ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.
                    
Dalam siksaan menahan sakit, Dela dalam linangan air mata berkata,”Ayah,ibu.. Dela tidak akan melakukannya lagi. Dela tidak akan mecoret-coret mobil baru ayah lagi. Dela tak mau lagi ayah pukul. Dela tak mau jahat lagi, Dela tak akan nakal lagi. Dela sayang ayah, sayang ibu.”
Dela mengatakannya berulang kali membuat suasana semakin haru, semuanya menangis sedih.
“Dela juga sayang mbok nah.”, katanya sambil memandang sedih pembantu rumah,sekaligus membuat wanita tua itu meraung,menangis begitu histeris.

“Ayah kembalikan tangan Dela. Untuk apa diambil? Dela janji ga akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dela mau makan nanti? Bagaimana dela mau main nanti? Dela ingin menggambar dibuku gambar saja. Dela janji tidak mencoret-coret mobil ayah lagi”.
Serasa hancur berkeping-keping hati si ibu mendengar kata-kata Dela. Menangis sejadi-jadinya, namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah menjadi bubur.
Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah Minta maaf.
Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yang tak bertepi. Namunsi anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup bahkan sangat sayang dan selalu merindukkan ayahnya, Dia masih merasa bahwa ayah ibunya sangat menyayanginya dengan sepenuh hati.
****************