Aku Janji Tak Akan Nakal Lagi
Sepasang suami istri yang
sangat sibuk dengan segala pekerjaan serta rutinitasnya, seperti pasangan lain
di kota-kota besar, selalu meninggalkan anak-anaknya diasuh pembantu rumah sewaktu
bekerja. Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin
menghindari macet.
Anak tunggal pasangan
ini,Dela,perempuan cantik berusia empat setengah tahun. Sendirian ia dirumah
kerap kali bermain sendiri, dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja di dapur.
Ia sering bermain dengan sosok-sosok boneka imajinernya. Bermain bersama
boneka-boneka atau ayunan-ayunan diatas buaian yang dibelikan ayahnya ataupun
memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya yang lumayan cukup besar dan
memiliki taman yang luas.
Suatu hari Dela melihat
sebatang paku karat.Dan ia pun mencoret lantai garasi tempat mobil ayahnya
diparkir. Tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak
kelihatan. Dia lalu penasaran dan mencobanya lagi pada mobil baru ayahnya.
Karena mobil mewah itu
berwarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Ia makin senang dan membuat
banyak coretan sesuai dengan semua kreativitasnya.
Setelah sebelah kanan mobil
sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu
dan ayahnya,gambarnya sendiri,lukisan ayam,kucing,dan lain sebagainya. Kejadian
itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang,
terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli
dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum masuk ke
rumah ini pun terus menjerit,”Kerjaan siapa ini !!!”
Pembantu rumah yang tersentak
dengan jeritan itu berlari keluar. Dia kaget dan istigfar melihat banyaknya
guratan dimobil majikannya. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat
wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan
pertanyaan keras kepadanya. Lalu dia terus mengatakan,”Saya tidak tahu.. tuan.”
Dengan tak kalah bengisnya ,
si istri membentak pembantu tua yang tidak tahu apa-apa.
Dela yang mendengar suara
ayahnya,tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata
sambil menunjukkan coretan-coretan di mobil.
“Dela yang membuat gambar itu
ayah, bagus kan? Gambar ibu cantik kan? Juga gambar kucing dan ikan, lucuuu kan
yah?”Gadis itu berkata dengan
polos dan jujur sambil memeluk ayahnya, bermanja seperti biasa. Si ayah yang
sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil penuh duri dari pohon
di depan rumahnya. Lalu dipukulkannya berkali-kali kedua telapak tangan
anaknya. Dela yang tak mengerti apa-apa kaget dan menangis kesakitan,pedih
sekaligus ketakutan.
Puas memukul telapak
tangan,si ayah memukul pula belakang tangan anaknya tanpa ampun. Sedangkan si
ibu Cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang
dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Si
ayah cukup lama memukul-mukul tangan dan kemudian diganti tangan kiri anaknya.
Setelah si ayah masuk ke
rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong Dela yang tangannya
lecet dan berdarah, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Dia terperanjat melihat
telapak tangan dan belakang tangan Dela luka-luka dan terus mengeluarkan darah.
Pembantu rumah memandikan dela. Sambil menyiraminya dengan air,dia menangis.
Dela menjerit-jerit menahan pedih luka-lukanya itu saat terkena air. Lalu si
pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu
tidur bersama pembantunya.
Keesokan harinya, kedua belah
tangan si anak bengkak. pembantu rumah mengadu pada majikannya.
Si bapak yang masih menyimpan
amarahnya,lantang menjawab,”Oleskan obat apa saja! Terserah!”
Pulang dari kerja, dia tidak
memperhatikan anak semata wayangnya yang menghabiskan waktu di kamar pembantu.
Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah
tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari
bertanya kepada pembantu rumah.
“Dela demam, Bu,?” jawab
pembantunya ringkas
“Kasih saja sirup penurun
panas itu saja,” jawab si ibu begitu ringan.
Sebelum si ibu masuk kamar
tidur ia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya dalam pelukan
pembantu rumah, ia menutup kembali pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu
rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dela terlalu panas.
“Sore nanti kita bawa ke
klinik... pukul 5 sore sudah harus siap,” kata majikannya ringan tanpa beban.
Sampai saatnya Dela yang
sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit
karena keadaannya sudah sangat serius.
Setelah beberapa hari dirawat
inap dokter manggil bapak dan ibu itu.
“Tidak ada kemajuan dan tidak
ada pilihan”..
“Maksud dokter?”
Dokter menghelakan nafas
dalam-dalam, menatap kedua orang tua Dela.
“Lukanya, sudah infeksi cukup
serius dan akut. Ini sudah bernanah. Demi menyelamatkan nyawanya maka kedua
tangannya harus di potong dari siku ke bawah.
Si bapak dan si ibu bagaikan
terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia terhenti berputar,
tapi apa yang dapat kita katakan lagi. Semua telah terlanjur terjadi. Dokter tau
tindakan apa yang segera diambil demi menyelamatkan Dela.
Si ibu meraung-raung,
menangis sekencang-kencangnya, merangkul dela yang hanya diam, tidak begitu
mengerti percakapan mereka.
Beberapa saat kemudian,
dengan sangat berat hati dan lelehan air mata istrinya, si ayah bergetar
tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari ruang bedah,
selepas obat bius yang disuntikkannya habis, Dela ,menangis kesakitan. Dia
tampak keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih.
Ditatapnya muka perawat, ayah
dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat
mereka semua menangis.
Dalam siksaan menahan sakit, Dela dalam linangan air mata berkata,”Ayah,ibu.. Dela tidak akan melakukannya lagi. Dela tidak akan mecoret-coret mobil baru ayah lagi. Dela tak mau lagi ayah pukul. Dela tak mau jahat lagi, Dela tak akan nakal lagi. Dela sayang ayah, sayang ibu.”
Dela mengatakannya berulang
kali membuat suasana semakin haru, semuanya menangis sedih.
“Dela juga sayang mbok nah.”,
katanya sambil memandang sedih pembantu rumah,sekaligus membuat wanita tua itu
meraung,menangis begitu histeris.
“Ayah kembalikan tangan Dela.
Untuk apa diambil? Dela janji ga akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya
Dela mau makan nanti? Bagaimana dela mau main nanti? Dela ingin menggambar
dibuku gambar saja. Dela janji tidak mencoret-coret mobil ayah lagi”.
Serasa hancur
berkeping-keping hati si ibu mendengar kata-kata Dela. Menangis sejadi-jadinya,
namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah
menjadi bubur.
Pada akhirnya si anak cantik
itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa
tangannya tetap harus dipotong meski sudah Minta maaf.
Tahun demi tahun kedua orang
tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat sang
ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya
yang tak bertepi. Namunsi anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya
tersebut tetap hidup bahkan sangat sayang dan selalu merindukkan ayahnya, Dia
masih merasa bahwa ayah ibunya sangat menyayanginya dengan sepenuh hati.
****************